Kupang, 31 Juli 2026 – Seorang mahasiswi Universitas Nusa Cendana atau Undana di Kupang, Nusa Tenggara Timur, mendapatkan pendampingan psikologis setelah mengalami tekanan yang diduga berkaitan dengan proses penyelesaian skripsinya. Mahasiswi tersebut disebut telah berulang kali menghadapi pembatalan atau kendala dalam proses akademik hingga mencapai 12 kali. Kondisinya kemudian mendapat perhatian pihak kampus dan orang-orang di sekitarnya sehingga dukungan profesional diberikan untuk membantu pemulihan. Pendampingan psikologis menjadi langkah penting agar mahasiswi dapat memperoleh ruang aman untuk menghadapi tekanan yang dialaminya. Situasi tersebut juga menjadi perhatian terhadap pentingnya dukungan kesehatan mental bagi mahasiswa selama menjalani proses akademik.
Tekanan dalam menyelesaikan skripsi dapat muncul dari berbagai faktor, mulai dari proses penelitian, revisi, komunikasi akademik, keterbatasan waktu, hingga ekspektasi terhadap kelulusan. Ketika hambatan terjadi berulang kali, mahasiswa dapat mengalami kelelahan emosional dan kehilangan kepercayaan diri. Namun, kondisi psikologis seseorang tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan jumlah kegagalan atau kendala akademik yang dialaminya. Penilaian mengenai kondisi mental membutuhkan pemeriksaan tenaga profesional dan informasi yang lebih lengkap. Karena itu, pendampingan menjadi langkah yang lebih tepat daripada memberikan label berdasarkan dugaan yang belum terverifikasi.
Bagi mahasiswi tersebut, fokus utama saat ini adalah memastikan kondisi psikologisnya mendapatkan perhatian dan dukungan yang dibutuhkan. Proses akademik dapat disesuaikan dengan mempertimbangkan kesiapan mahasiswa agar tuntutan penyelesaian studi tidak memperburuk kondisi yang sedang dihadapi. Komunikasi antara mahasiswa, keluarga, dosen pembimbing, dan pihak kampus menjadi penting untuk menentukan langkah selanjutnya. Pendampingan juga dapat membantu mengidentifikasi sumber tekanan serta strategi untuk menghadapinya secara bertahap. Pemulihan tidak perlu dipaksakan mengikuti target akademik tertentu apabila mahasiswa masih membutuhkan waktu.
Kasus tersebut sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi perguruan tinggi mengenai sistem pendampingan mahasiswa tingkat akhir. Skripsi merupakan proses akademik yang membutuhkan interaksi intensif antara mahasiswa dan dosen pembimbing, sehingga prosedur konsultasi dan evaluasi perlu memiliki kejelasan. Apabila penelitian harus diperbaiki atau dijadwalkan ulang, mahasiswa membutuhkan penjelasan mengenai alasan dan langkah konkret yang harus dilakukan. Kejelasan tersebut dapat mengurangi ketidakpastian yang menjadi salah satu sumber tekanan. Kampus juga dapat menyediakan mekanisme konsultasi apabila mahasiswa mengalami kendala berkepanjangan dalam proses bimbingan.
Dosen pembimbing memiliki peran penting dalam menjaga proses akademik tetap berjalan dengan standar ilmiah sekaligus memberikan arahan yang dapat dipahami mahasiswa. Kritik dan revisi merupakan bagian normal dari penyusunan karya ilmiah, tetapi komunikasi mengenai kekurangan penelitian perlu disampaikan secara jelas dan terarah. Mahasiswa perlu mengetahui bagian yang harus diperbaiki serta standar yang harus dicapai sebelum melanjutkan ke tahapan berikutnya. Dokumentasi perkembangan bimbingan juga dapat membantu kedua pihak melihat kemajuan yang telah dilakukan. Sistem tersebut dapat mencegah mahasiswa merasa terus mengulang proses tanpa mengetahui arah penyelesaiannya.
Dukungan dari teman dan keluarga juga memiliki arti penting ketika mahasiswa menghadapi tekanan akademik berat. Kehadiran orang terdekat dapat membantu mahasiswa merasa tidak menghadapi seluruh persoalan sendirian. Dukungan sebaiknya diberikan dengan mendengarkan tanpa menghakimi atau membandingkan kecepatan kelulusan dengan mahasiswa lain. Setiap orang memiliki perjalanan akademik dan kondisi berbeda sehingga waktu penyelesaian studi tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran kemampuan seseorang. Ketika muncul perubahan perilaku atau tekanan yang semakin berat, bantuan profesional menjadi pilihan yang perlu diprioritaskan.
Perguruan tinggi juga dapat memperkuat layanan konseling yang mudah diakses dan menjaga kerahasiaan mahasiswa. Informasi mengenai layanan tersebut perlu tersedia sejak awal perkuliahan, bukan hanya diberikan ketika terjadi persoalan serius. Dosen dan tenaga kependidikan dapat memperoleh pemahaman mengenai cara mengenali mahasiswa yang membutuhkan dukungan tanpa mencoba melakukan diagnosis sendiri. Sistem rujukan yang jelas membuat mahasiswa dapat memperoleh bantuan lebih cepat ketika diperlukan. Pencegahan dan pendampingan sejak dini dapat membantu mengurangi dampak tekanan akademik yang berkepanjangan.
Pendampingan psikologis terhadap mahasiswi Undana yang mengalami tekanan setelah berulang kali menghadapi kendala skripsi menjadi langkah penting untuk memastikan kesejahteraannya ditempatkan sebagai prioritas. Penyelesaian studi tetap penting, tetapi perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi dan kesiapan mahasiswa. Kasus ini juga menjadi pengingat bagi perguruan tinggi untuk mengevaluasi sistem bimbingan, akses konseling, dan mekanisme penyelesaian kendala akademik. Mahasiswa membutuhkan standar akademik yang jelas sekaligus lingkungan yang memungkinkan mereka meminta bantuan ketika menghadapi kesulitan. Dengan dukungan profesional, keluarga, serta kampus yang terkoordinasi, proses pemulihan dapat berjalan bersamaan dengan perencanaan kelanjutan studi secara lebih aman dan terukur.