Jakarta, 10 September 2026 – Penggunaan lensa kontak tidak direkomendasikan ketika udara masih mengandung abu vulkanik karena partikel halus dapat terperangkap di antara lensa dan permukaan mata. Kondisi tersebut membuat abu berada sangat dekat dengan kornea dan berpotensi meningkatkan gesekan setiap kali mata berkedip atau lensa bergerak. Berbeda dengan debu biasa, abu vulkanik terdiri atas fragmen material yang dapat memiliki permukaan kasar dan bersifat abrasif. Partikel tersebut dapat menyebabkan mata terasa mengganjal, perih, merah, berair, hingga lebih sensitif terhadap cahaya. Dalam kondisi tertentu, gesekan juga dapat menimbulkan abrasi atau goresan pada kornea. Karena alasan tersebut, masyarakat di wilayah terdampak abu lebih disarankan menggunakan kacamata atau kacamata pelindung dibandingkan lensa kontak.
Risiko terhadap pengguna lensa kontak meningkat karena alat tersebut berada langsung di atas lapisan air mata yang menutupi kornea. Ketika abu masuk ke mata, sebagian partikel dapat tertahan pada lensa atau terjebak di ruang antara lensa dan kornea. Partikel yang seharusnya dapat dikeluarkan melalui air mata kemudian berpotensi bertahan lebih lama di permukaan mata. Gerakan kelopak mata saat berkedip dapat membuat partikel tersebut bergesekan berulang kali dengan jaringan kornea. Jika partikel mempunyai permukaan tajam atau kasar, risiko terjadinya luka kecil menjadi lebih besar. International Volcanic Health Hazard Network secara khusus mengingatkan pengguna lensa kontak untuk tidak memakai lensanya ketika berada di lingkungan dengan abu halus.
Dokter spesialis mata konsultan kornea, lensa, dan bedah refraktif Muhammad Iqbal Sofyan menjelaskan lensa kontak juga dapat membuat kornea relatif mengalami kekurangan oksigen. Kornea memperoleh sebagian kebutuhan oksigennya langsung dari udara sehingga keberadaan lensa kontak dapat memengaruhi suplai tersebut. Pada kondisi normal, penggunaan lensa kontak yang tepat dapat ditoleransi oleh mata sesuai jenis dan durasi pemakaiannya. Namun, ketika lingkungan dipenuhi abu, terdapat faktor tambahan berupa partikel yang berpotensi menempel atau tertanam pada lensa. Kombinasi antara kondisi permukaan mata dan paparan material abrasif tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan. Hal ini menjadi salah satu alasan pengguna lensa kontak dianjurkan beralih sementara menggunakan kacamata selama paparan abu masih terjadi.
Soft lens membutuhkan perhatian khusus karena karakteristik materialnya memungkinkan partikel asing berada sangat dekat dengan permukaan kornea. Abu yang masuk dapat menempel pada lensa maupun berada di lapisan air mata di bawahnya. Apabila kondisi tersebut tidak segera disadari, seseorang mungkin terus menggunakan lensa meskipun sudah muncul rasa tidak nyaman. Sensasi awal terkadang hanya berupa mata terasa kering atau seperti kemasukan pasir. Namun, gesekan yang berlanjut dapat meningkatkan iritasi dan kemungkinan abrasi kornea. Karena itu, rasa mengganjal ketika berada di lingkungan berabu tidak sebaiknya diabaikan oleh pengguna lensa kontak. Lensa perlu dilepas apabila terdapat dugaan abu telah masuk ke mata.
Ketika mata sudah terkena abu, tindakan yang juga harus dihindari adalah mengucek atau menggosok mata. Mengucek dapat menekan partikel yang terperangkap dan membuatnya bergerak melintasi permukaan kornea. Risiko tersebut menjadi lebih penting ketika seseorang masih menggunakan lensa kontak karena abu dapat berada di bawah atau menempel pada lensa. Rumah Sakit Mata Cicendo menganjurkan lensa kontak segera dilepas apabila terjadi paparan sehingga partikel tidak terus terjebak di bawahnya. Mata kemudian dapat dibersihkan menggunakan air bersih mengalir atau larutan saline steril untuk membantu mengeluarkan material asing. Menggosok mata dengan tangan bukan cara yang tepat untuk mempercepat pengeluaran abu karena justru dapat meningkatkan risiko goresan.
Pembilasan menggunakan air mengalir menjadi salah satu langkah penting apabila partikel abu sudah masuk ke mata. Dokter spesialis mata Rini Sulastiwaty Situmorang menjelaskan aliran air membantu menggerakkan benda asing yang mungkin menempel pada permukaan mata. Hanya mengedipkan mata belum tentu cukup apabila partikel masih melekat atau terperangkap pada bagian tertentu. Bagi pengguna lensa kontak, lensa perlu dilepas agar proses pembilasan dapat membersihkan permukaan mata dengan lebih baik. Pembilasan harus dilakukan secara lembut tanpa memberikan tekanan berlebihan pada mata. Setelah itu, penggunaan lensa kontak sebaiknya tidak langsung dilanjutkan apabila mata masih terasa merah, perih, atau mengganjal.
Penggunaan kacamata menjadi pilihan yang lebih aman selama paparan abu masih berlangsung karena tidak bersentuhan langsung dengan kornea. Kacamata biasa dapat memberikan perlindungan tertentu, sedangkan goggles yang menutup area mata lebih rapat mampu mengurangi masuknya partikel dari berbagai arah. Perlindungan tersebut terutama diperlukan bagi orang yang harus bekerja atau beraktivitas di luar ruangan. Panduan penanganan abu vulkanik juga merekomendasikan penggunaan kacamata dibandingkan lensa kontak untuk membantu mencegah abu mengenai mata sekaligus mengurangi risiko iritasi. Masyarakat yang melakukan pembersihan abu perlu memberikan perhatian lebih karena material yang sudah mengendap dapat kembali beterbangan. Penggunaan perlindungan mata perlu dikombinasikan dengan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan melalui saluran pernapasan.
Kewaspadaan tersebut semakin relevan ketika abu vulkanik masih tersebar di lingkungan setelah aktivitas Gunung Anak Krakatau. Meskipun hujan abu sudah berhenti, material yang menempel di jalan, halaman, kendaraan, dan bangunan dapat kembali terangkat akibat angin atau aktivitas manusia. Karena itu, tidak adanya abu yang sedang turun dari langit belum tentu berarti risiko paparan telah sepenuhnya hilang. Dinas Kesehatan juga mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika paparan masih terjadi serta menggunakan kacamata pelindung. Penggunaan lensa kontak disarankan dihindari sementara sampai kondisi udara membaik. Langkah sederhana tersebut dapat mengurangi kemungkinan partikel masuk dan terjebak pada permukaan mata.
Pengguna lensa kontak juga perlu memperhatikan keluhan yang tetap muncul setelah mata dibersihkan. Mata merah yang tidak membaik, rasa seperti terdapat benda asing, nyeri, sensitivitas terhadap cahaya, atau penglihatan kabur dapat menjadi tanda bahwa iritasi membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Dokter mata dapat memeriksa apakah masih terdapat partikel asing atau terjadi luka pada permukaan kornea. Pemeriksaan menjadi semakin penting apabila keluhan bertahan meskipun lensa sudah dilepas dan mata telah dibilas. Memaksakan kembali penggunaan lensa kontak ketika mata masih mengalami iritasi dapat menambah ketidaknyamanan. Karena itu, pemakaian sebaiknya ditunda sampai mata kembali nyaman atau berdasarkan penilaian tenaga kesehatan apabila keluhannya menetap.
Larangan sementara menggunakan lensa kontak saat terdapat abu vulkanik pada akhirnya bertujuan melindungi kornea dari kontak berkepanjangan dengan partikel abrasif. Lensa dapat membuat partikel tertahan di permukaan mata dan meningkatkan gesekan yang berpotensi menyebabkan iritasi maupun abrasi kornea. Beralih menggunakan kacamata atau goggles memberikan perlindungan tambahan tanpa menempatkan benda langsung di atas kornea. Apabila abu masuk ke mata, lensa kontak perlu dilepas, mata tidak boleh dikucek, dan pembilasan menggunakan air bersih mengalir dapat segera dilakukan. Keluhan yang menetap atau disertai gangguan penglihatan perlu mendapatkan pemeriksaan tenaga kesehatan. Selama abu masih berpotensi berada di udara, menghindari lensa kontak menjadi langkah pencegahan sederhana untuk menjaga kesehatan mata.