Jakarta, 1 September 2026 – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan apresiasi kepada Presiden Rusia Vladimir Putin atas sikap Moskow selama konflik Iran dan Amerika Serikat. Pernyataan tersebut disampaikan ketika kedua pemimpin bertemu di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Bishkek, Kirgistan, Selasa (1/9/2026). Pertemuan itu menjadi pertemuan langsung pertama Pezeshkian dan Putin sejak konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel kembali memanas. Pezeshkian menilai dukungan Rusia menunjukkan bahwa hubungan kedua negara bukan sekadar hubungan biasa, melainkan kemitraan strategis.
Dalam pertemuan tersebut, Pezeshkian mengucapkan terima kasih atas posisi Rusia selama berbagai tahapan konflik. Apresiasi itu tidak hanya berkaitan dengan sikap Moskow selama pertempuran, tetapi juga dukungan Rusia terhadap Iran ketika menghadapi sanksi Amerika Serikat. Pezeshkian secara khusus menyoroti dukungan Rusia di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan berbagai forum internasional lainnya. Menurutnya, sikap tersebut memperlihatkan konsistensi hubungan strategis antara Teheran dan Moskow. Dukungan diplomatik tersebut dinilai penting bagi Iran ketika menghadapi tekanan internasional yang semakin besar.
Pezeshkian juga menegaskan bahwa Iran tetap berupaya menghadapi kebijakan unilateral Amerika Serikat melalui kerja sama dengan negara-negara lain. Ia melihat organisasi multilateral seperti SCO dapat menjadi wadah untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan politik sekaligus mengurangi dampak sanksi. Iran dan Rusia dalam beberapa tahun terakhir memang mempererat hubungan strategis, termasuk dalam bidang ekonomi, energi, perdagangan, dan transportasi. Kedua negara juga sama-sama menghadapi berbagai bentuk tekanan dan sanksi dari Washington. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong Teheran dan Moskow memperluas kerja sama bilateral serta multilateral.
Dalam kesempatan yang sama, Pezeshkian menyatakan keyakinannya bahwa Iran akan mampu melewati konflik dan tekanan yang sedang dihadapi. Ia bahkan menyampaikan keyakinan bahwa negaranya akan memenangkan konfrontasi dengan Amerika Serikat. Pezeshkian juga menilai tindakan Amerika Serikat terhadap Iran tidak dapat dibenarkan. Namun, di tengah ketegangan tersebut, pemerintah Iran masih membuka peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi. Sikap tersebut menunjukkan bahwa Teheran berusaha mempertahankan tekanan politik sekaligus tetap menyediakan ruang untuk negosiasi.
Pezeshkian mengaitkan peluang diplomasi dengan pelaksanaan kembali nota kesepahaman yang disepakati Iran dan Amerika Serikat pada Juni. Ia mengatakan Iran siap kembali menjalankan kewajibannya apabila Washington juga memenuhi komitmen yang telah disepakati. Pernyataan tersebut disampaikan setelah kesepakatan sementara yang sebelumnya membantu meredakan konflik kembali mengalami tekanan akibat meningkatnya aksi militer. Iran menilai pemenuhan komitmen secara timbal balik merupakan dasar penting untuk mengembalikan proses diplomasi.
Sementara itu, Putin menyampaikan solidaritas Rusia terhadap rakyat Iran dalam pertemuannya dengan Pezeshkian. Presiden Rusia juga memuji keberanian dan keteguhan Iran dalam mempertahankan kepentingan nasionalnya. Putin menegaskan bahwa Moskow berupaya membantu Iran menghadapi situasi sulit yang sedang berlangsung. Sikap tersebut memperlihatkan bahwa hubungan Rusia dan Iran tetap erat di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat. Dukungan politik dari Moskow sekaligus memperkuat posisi Rusia sebagai salah satu mitra utama Teheran dalam menghadapi tekanan internasional.
Hubungan Iran dan Rusia sebelumnya juga telah diperkuat melalui berbagai kesepakatan strategis. Kedua negara memiliki kepentingan dalam mengembangkan kerja sama energi, investasi, perdagangan, transportasi, dan konektivitas regional. Pezeshkian sebelumnya meminta agar pelaksanaan berbagai kesepakatan bilateral tersebut dipercepat agar hubungan strategis menghasilkan proyek yang lebih konkret. Pengembangan koridor transportasi dan kerja sama ekonomi menjadi salah satu bidang yang dinilai memiliki potensi besar. Kerja sama tersebut sekaligus dapat membantu kedua negara mengurangi dampak pembatasan ekonomi dari negara-negara Barat.
Pertemuan Pezeshkian dan Putin berlangsung ketika situasi Iran-Amerika Serikat kembali berada dalam kondisi tegang. Pertukaran serangan militer kembali terjadi setelah periode jeda, sementara Washington juga meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan aktivitas perdagangan internasional. Iran tetap menyatakan kesediaan untuk menempuh jalur diplomasi apabila Amerika Serikat memenuhi komitmen yang telah disepakati. Di sisi lain, dukungan Rusia menjadi salah satu faktor yang dipandang penting oleh Teheran dalam menghadapi tekanan politik dan ekonomi dari Washington.
Apresiasi Pezeshkian kepada Putin pada akhirnya memperlihatkan semakin kuatnya hubungan strategis antara Iran dan Rusia. Teheran melihat dukungan Moskow sebagai modal penting untuk menghadapi tekanan internasional sekaligus memperkuat posisi Iran dalam forum multilateral. Rusia sendiri menegaskan solidaritasnya kepada Iran dan menyatakan kesiapan melanjutkan kerja sama di berbagai bidang. Meski demikian, Iran masih membuka kemungkinan penyelesaian melalui negosiasi apabila terdapat komitmen timbal balik dari Amerika Serikat. Perkembangan hubungan ketiga negara tersebut diperkirakan tetap menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi dinamika geopolitik Timur Tengah dalam waktu mendatang.