Jakarta, 26 Mei 2026 – Perjalanan spiritual puluhan bhikkhu Thudong menuju Candi Borobudur kembali menarik perhatian masyarakat setelah sebanyak 57 bhikkhu memilih beristirahat dan tidur di lapangan terbuka selama perjalanan panjang mereka. Tradisi Thudong yang berasal dari praktik spiritual Buddhis ini dilakukan dengan berjalan kaki melintasi berbagai daerah sebagai bentuk latihan pengendalian diri, kesederhanaan, dan ketekunan spiritual. Dalam perjalanan menuju perayaan Waisak di kawasan Borobudur, para bhikkhu menempuh perjalanan ratusan kilometer dengan perlengkapan sederhana tanpa mengutamakan kenyamanan pribadi. Mereka memilih tidur di ruang terbuka seperti lapangan, halaman vihara, hingga area yang disediakan masyarakat sebagai bagian dari praktik hidup sederhana dan pelepasan diri dari kemewahan duniawi. Perjalanan tersebut tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga simbol ketekunan spiritual yang mengundang rasa hormat dari masyarakat di sepanjang jalur yang mereka lalui.
Selama perjalanan, para bhikkhu menjalani rutinitas ketat dengan berjalan kaki dalam waktu panjang sambil menjaga disiplin spiritual dan kesederhanaan hidup. Mereka membawa perlengkapan seperlunya dan menerima bantuan makanan maupun kebutuhan dasar dari masyarakat yang ditemui di perjalanan. Tidur di lapangan terbuka dilakukan bukan karena keterpaksaan, melainkan sebagai bagian dari latihan batin untuk membiasakan diri hidup tanpa bergantung pada kenyamanan materi. Tradisi Thudong sendiri dikenal sebagai praktik perjalanan spiritual yang mengajarkan ketahanan fisik, kesabaran, serta kedekatan dengan alam dan kehidupan sederhana. Banyak masyarakat yang menyambut para bhikkhu dengan antusias karena menganggap perjalanan tersebut membawa pesan perdamaian, ketekunan, dan nilai kemanusiaan yang mendalam.
Pengamat budaya dan agama menilai tradisi Thudong memiliki makna spiritual yang sangat kuat dalam ajaran Buddhis, terutama terkait pengendalian diri dan pembentukan disiplin batin. Dalam praktiknya, perjalanan jauh dengan berjalan kaki menjadi simbol pelepasan ego dan keterikatan terhadap kenyamanan duniawi. Selain menjadi latihan spiritual pribadi, perjalanan para bhikkhu juga sering menjadi sarana mempererat hubungan sosial dengan masyarakat karena mereka berinteraksi langsung dengan warga di berbagai daerah. Di Indonesia, tradisi Thudong menjelang Waisak semakin dikenal luas dan sering mendapat sambutan hangat dari masyarakat lintas agama. Fenomena ini menunjukkan bahwa praktik spiritual yang menekankan kesederhanaan dan kedamaian mampu membangun rasa hormat serta simpati publik secara luas.
Di sisi lain, perjalanan para bhikkhu Thudong juga memberikan gambaran mengenai kuatnya semangat pengabdian dalam menjalankan keyakinan. Menempuh perjalanan panjang dengan kondisi cuaca yang berubah-ubah tentu menjadi tantangan fisik tersendiri, apalagi dengan fasilitas istirahat yang sangat sederhana. Namun para bhikkhu tetap menjalani perjalanan dengan tenang dan disiplin sebagai bagian dari latihan spiritual yang telah diwariskan dalam tradisi Buddhis selama bertahun-tahun. Banyak warga yang tergerak membantu dengan menyediakan makanan, minuman, hingga tempat singgah sementara sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan mereka. Kehadiran para bhikkhu di berbagai daerah juga sering menciptakan suasana kebersamaan dan toleransi antarumat beragama yang positif.
Perjalanan menuju Borobudur diperkirakan masih akan berlanjut hingga menjelang puncak perayaan Waisak yang rutin digelar setiap tahun di kompleks candi bersejarah tersebut. Para bhikkhu diharapkan tiba dengan selamat dan dapat mengikuti rangkaian ibadah bersama umat Buddha dari berbagai daerah dan negara. Tradisi Thudong sendiri kini tidak hanya dipandang sebagai ritual keagamaan, tetapi juga simbol ketekunan, perdamaian, dan kesederhanaan hidup yang relevan di tengah kehidupan modern. Banyak masyarakat melihat perjalanan itu sebagai pengingat bahwa kebahagiaan dan ketenangan tidak selalu bergantung pada kenyamanan materi. Kisah 57 bhikkhu yang rela tidur di lapangan terbuka demi menjalankan perjalanan spiritual pun menjadi inspirasi tentang keteguhan hati, disiplin, dan nilai kemanusiaan yang melampaui batas agama dan budaya.