Jakarta, 16 September 2026 – Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman memastikan fasilitas penitipan anak atau daycare di pabrik-pabrik kawasan industri harus memenuhi standar kelayakan untuk mendukung pekerja, khususnya perempuan, sekaligus memberikan perlindungan kepada anak. Penegasan itu disampaikan setelah Dudung meninjau fasilitas daycare bagi anak pekerja di kawasan industri Cikarang, Jawa Barat, pada Selasa. Pemerintah ingin keberadaan tempat penitipan anak tidak hanya menjadi fasilitas pelengkap perusahaan, tetapi benar-benar mampu memberikan pengasuhan yang aman selama orangtua bekerja. Perhatian diberikan terhadap kondisi ruangan, tenaga pengasuh, kebersihan, keamanan, serta berbagai fasilitas pendukung kebutuhan anak. Pemerintah juga melihat penyediaan daycare sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan kerja yang lebih ramah keluarga.
Dudung melakukan peninjauan bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah melihat secara langsung tata kelola fasilitas pengasuhan anak yang berada di lingkungan industri. Pemerintah ingin memastikan anak pekerja mendapatkan tempat yang layak ketika orangtua mereka harus menjalankan pekerjaan selama berjam-jam. Fasilitas tersebut dinilai penting mengingat banyak pekerja perempuan berada dalam usia produktif dan memiliki anak yang masih membutuhkan pengawasan. Keberadaan daycare yang dekat dengan tempat kerja juga dapat mengurangi kekhawatiran orangtua mengenai kondisi anak selama jam kerja. Pada saat bersamaan, perusahaan diharapkan memiliki perhatian lebih besar terhadap kebutuhan keluarga pekerja.
Pemerintah menilai standar pelayanan menjadi hal penting karena penyediaan daycare tidak cukup hanya dengan menyediakan ruangan untuk menitipkan anak. Tempat pengasuhan perlu memperhatikan aspek keamanan, kesehatan, kebersihan, kenyamanan, serta kebutuhan perkembangan anak sesuai kelompok usia. Pengasuh juga memiliki peran besar karena bertanggung jawab mendampingi anak selama orangtua berada di tempat kerja. Lingkungan daycare perlu dirancang agar dapat meminimalkan risiko kecelakaan sekaligus memberikan kesempatan kepada anak untuk bermain dan berinteraksi secara aman. Kebutuhan makan, istirahat, kebersihan, serta aktivitas perkembangan juga perlu menjadi perhatian. Standar tersebut dibutuhkan agar fasilitas yang dibangun perusahaan benar-benar memberikan manfaat bagi pekerja dan anak.
Penyediaan daycare di kawasan industri sebelumnya juga menjadi salah satu aspirasi organisasi pekerja. Serikat buruh mendorong tersedianya tempat penitipan anak yang ramah anak di kawasan industri maupun permukiman pekerja. Fasilitas tersebut dinilai dapat membantu orangtua mempertahankan produktivitas tanpa mengabaikan kebutuhan tumbuh kembang anak. Persoalan pengasuhan menjadi semakin penting ketika kedua orangtua bekerja dan tidak memiliki anggota keluarga yang dapat menjaga anak selama jam kerja. Kondisi tersebut dapat menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga pekerja di kawasan industri. Daycare yang mudah dijangkau kemudian menjadi salah satu pilihan untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Keberadaan fasilitas pengasuhan juga berkaitan dengan peningkatan partisipasi perempuan dalam dunia kerja. Pekerja perempuan yang memiliki anak kecil dapat menghadapi dilema ketika tidak tersedia layanan pengasuhan yang aman dan terjangkau. Dalam kondisi tertentu, kesulitan tersebut dapat memengaruhi keputusan untuk tetap bekerja atau mengurangi aktivitas profesional. Daycare di sekitar tempat kerja dapat memberikan alternatif yang memungkinkan perempuan mempertahankan aktivitas ekonominya setelah memiliki anak. Namun, manfaat tersebut hanya dapat diperoleh apabila kualitas pengasuhan benar-benar terjaga. Karena itu, pemerintah mendorong agar pembangunan fasilitas berjalan bersama penerapan standar perlindungan anak.
Perusahaan juga dapat memperoleh manfaat dari keberadaan fasilitas yang dikelola secara baik. Pekerja yang mengetahui anaknya berada dalam lingkungan aman dapat lebih berkonsentrasi ketika menjalankan pekerjaan. Kekhawatiran mengenai pengasuhan anak selama jam kerja berpotensi berkurang sehingga keseimbangan antara tanggung jawab keluarga dan pekerjaan menjadi lebih baik. Sejumlah pemerintah daerah sebelumnya juga mendorong perusahaan menyediakan daycare karena fasilitas tersebut dinilai dapat mendukung produktivitas pekerja. Di Kawasan Industri Terpadu Batang, misalnya, fasilitas daycare telah dikembangkan sebagai salah satu sarana pendukung bagi pekerja perempuan. Kawasan tersebut memiliki ribuan pekerja dengan sekitar 60 persen di antaranya perempuan ketika fasilitas tersebut diperkenalkan.
Meski demikian, penyediaan daycare dalam kawasan industri memiliki tantangan tersendiri. Kawasan industri dapat memiliki wilayah yang sangat luas dengan jarak antarpabrik cukup jauh sehingga satu fasilitas belum tentu mudah dijangkau seluruh pekerja. Organisasi pekerja sebelumnya mengingatkan bahwa penyediaan beberapa titik daycare dapat diperlukan pada kawasan yang memiliki banyak perusahaan dan tenaga kerja. Pertimbangan biaya pembangunan dan operasional kemudian menjadi bagian yang perlu dibicarakan antara pemerintah, pengelola kawasan, serta perusahaan. Model pengelolaan juga harus dibuat berkelanjutan agar kualitas pelayanan tidak menurun setelah fasilitas mulai beroperasi. Jumlah anak yang ditampung perlu disesuaikan dengan kapasitas ruangan dan tenaga pengasuh yang tersedia.
Pengawasan terhadap daycare menjadi bagian yang tidak kalah penting setelah fasilitas tersedia. Pemeriksaan berkala dapat membantu memastikan standar keamanan dan kualitas pengasuhan tetap diterapkan dalam kegiatan sehari-hari. Perusahaan maupun pengelola kawasan perlu memiliki prosedur ketika terjadi kondisi darurat, termasuk ketika anak mengalami sakit atau kecelakaan. Informasi mengenai kondisi kesehatan dan kebutuhan khusus anak juga perlu dikelola dengan baik bersama orangtua. Komunikasi antara pengasuh dan keluarga menjadi penting agar perkembangan anak selama berada di daycare dapat diketahui. Dengan pengelolaan tersebut, fasilitas penitipan anak dapat berfungsi sebagai lingkungan pengasuhan sementara yang aman dan bukan sekadar tempat menunggu orangtua selesai bekerja.
Dorongan menyediakan daycare di kawasan industri juga semakin berkembang di sejumlah daerah. Di Jawa Timur, kalangan dunia usaha menargetkan semakin banyak kawasan industri memiliki fasilitas pengasuhan anak pada 2026 sebagai bagian dari pengembangan konsep care economy. Pendekatan tersebut memandang kebutuhan pengasuhan bukan hanya sebagai urusan pribadi keluarga, tetapi juga bagian dari ekosistem kerja yang dapat memengaruhi produktivitas. Semakin banyak pasangan yang sama-sama bekerja membuat kebutuhan terhadap layanan pengasuhan menjadi lebih besar. Pemerintah, perusahaan, dan pengelola kawasan kemudian memiliki ruang untuk berkolaborasi dalam menyediakan fasilitas yang dapat diakses pekerja. Pengembangan tersebut tetap perlu mempertimbangkan standar keselamatan dan perlindungan anak sebagai prioritas.
Peninjauan KSP di kawasan industri menjadi bagian dari upaya memastikan rencana perluasan daycare berjalan dengan memperhatikan kualitas pelayanan. Pemerintah ingin fasilitas tersebut mampu memberikan rasa aman kepada pekerja sekaligus menjamin anak memperoleh pengasuhan yang layak selama ditinggalkan orangtuanya bekerja. Penyediaan ruangan saja tidak cukup tanpa tenaga pengasuh yang kompeten, lingkungan yang aman, kebersihan yang terjaga, serta sistem pengawasan yang jelas. Kolaborasi dengan perusahaan dan pengelola kawasan industri menjadi penting karena kebutuhan setiap lokasi dapat berbeda berdasarkan jumlah pekerja dan luas wilayah. Jika diterapkan dengan standar yang memadai, daycare dapat menjadi salah satu fasilitas pendukung yang memperkuat perlindungan pekerja dan keluarga. Pemerintah pun akan terus mendorong agar perkembangan kawasan industri berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan serta perlindungan bagi pekerja dan anak-anak mereka.