Jakarta, 16 September 2026 – Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengungkap perjalanan yang membawanya masuk ke jajaran pemerintahan hingga akhirnya dipercaya memimpin Kementerian Kelautan dan Perikanan. Trenggono menceritakan bahwa kedekatan profesionalnya dengan Presiden Prabowo Subianto bermula ketika keduanya berada di Kementerian Pertahanan pada Kabinet Indonesia Maju. Saat itu, Prabowo menjabat Menteri Pertahanan, sedangkan Trenggono dipercaya menjadi Wakil Menteri Pertahanan. Pengalaman bekerja bersama tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya di pemerintahan. Trenggono mengaku awal ketika dipercaya menduduki jabatan menteri tetap memberikan tekanan tersendiri. Ia bahkan menggambarkan perasaannya ketika memasuki posisi tersebut seperti seseorang yang berada di lingkungan baru dan harus segera beradaptasi.
Sebelum memimpin Kementerian Kelautan dan Perikanan, Trenggono memiliki latar belakang panjang di dunia usaha. Pengalaman korporasi tersebut menjadi salah satu modal yang kemudian dibawanya ketika masuk ke pemerintahan. Pada Oktober 2019, Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai Wakil Menteri Pertahanan untuk mendampingi Prabowo. Salah satu tugas yang diberikan kepadanya ketika itu berkaitan dengan pengembangan industri strategis pertahanan nasional. Posisi tersebut membuat Trenggono bekerja langsung dengan Prabowo dalam berbagai agenda Kementerian Pertahanan. Hubungan kerja itu berlangsung sampai Trenggono memperoleh penugasan baru pada akhir 2020.
Trenggono menceritakan Prabowo memiliki peran dalam perjalanan dirinya menuju jabatan Menteri Kelautan dan Perikanan. Setelah menjalani tugas sebagai Wakil Menteri Pertahanan, namanya kemudian masuk dalam pertimbangan untuk mengisi posisi Menteri Kelautan dan Perikanan. Ia dilantik sebagai menteri pada Desember 2020 di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo. Penunjukan tersebut membuatnya harus berpindah dari sektor pertahanan menuju sektor yang memiliki karakter sangat berbeda. Kelautan dan perikanan mencakup persoalan sumber daya alam, ekonomi nelayan, budidaya, konservasi, hingga pengawasan wilayah laut. Trenggono mengakui dirinya harus mempelajari berbagai persoalan tersebut setelah menerima tanggung jawab baru.
Pengalaman awal menjadi menteri menurut Trenggono diwarnai rasa tegang karena ia harus memahami struktur dan persoalan sektor kelautan secara cepat. Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas sehingga kebijakan perikanan tidak dapat hanya dilihat dari aspek produksi. Keberlanjutan sumber daya ikan, kondisi ekosistem, kesejahteraan nelayan, dan kebutuhan industri harus berjalan beriringan. Dari proses tersebut, Trenggono kemudian membangun pendekatan yang menempatkan keberlanjutan sebagai salah satu dasar pengelolaan sektor kelautan. Sejumlah kebijakan kemudian dikembangkan untuk memperkuat pengelolaan perikanan sekaligus menjaga ekosistem. Pendekatan tersebut terus dibawa selama masa kepemimpinannya.
Ketika Prabowo membentuk Kabinet Merah Putih pada Oktober 2024, Trenggono kembali dipercaya menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan. Ia dilantik pada 21 Oktober 2024 dan melanjutkan jabatan yang telah diembannya sejak pemerintahan sebelumnya. Dengan penunjukan tersebut, Trenggono menjadi salah satu menteri yang memimpin Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam dua pemerintahan berbeda. Pengalaman bekerja bersama Prabowo di Kementerian Pertahanan juga membuat keduanya telah mengenal pola kerja masing-masing sebelum pemerintahan baru terbentuk. Penugasan kembali tersebut memberikan kesempatan bagi Trenggono melanjutkan sejumlah program yang telah dirancang sebelumnya. Fokusnya tetap diarahkan pada peningkatan ekonomi sektor kelautan dengan mempertimbangkan keberlanjutan sumber daya.
Salah satu program yang kini mendapatkan perhatian adalah pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperbaiki ekosistem ekonomi masyarakat pesisir. Pemerintah ingin kawasan nelayan tidak hanya menjadi tempat pendaratan ikan, tetapi memiliki fasilitas produksi, penyimpanan, pengolahan, dan pemasaran yang lebih terintegrasi. Pengembangan pelabuhan perikanan juga menjadi bagian dari strategi tersebut. Trenggono menilai infrastruktur yang memadai dapat membantu meningkatkan nilai ekonomi hasil tangkapan. Dengan rantai pasok yang lebih baik, nelayan diharapkan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar.
Trenggono juga mendorong kebijakan ekonomi biru sebagai landasan pembangunan sektor kelautan dan perikanan. Program tersebut mencakup perluasan kawasan konservasi, pengelolaan penangkapan ikan, pengembangan budidaya berkelanjutan, pengawasan kawasan pesisir, serta pengurangan sampah plastik di laut. Pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya dan kemampuan ekosistem untuk tetap produktif dalam jangka panjang. Tantangannya adalah memastikan kebijakan tersebut memberikan manfaat nyata bagi nelayan dan pelaku usaha. Pengawasan juga dibutuhkan untuk mencegah eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya laut. Indonesia memiliki potensi ekonomi kelautan besar, tetapi pemanfaatannya membutuhkan tata kelola yang konsisten.
Cerita Trenggono mengenai perjalanan menuju kursi menteri memperlihatkan bagaimana pengalaman di Kementerian Pertahanan menjadi salah satu tahapan penting dalam karier pemerintahannya. Dari dunia korporasi, ia masuk sebagai Wakil Menteri Pertahanan sebelum kemudian berpindah menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan. Kepercayaan tersebut berlanjut ketika Prabowo menjadi presiden dan kembali mempertahankannya dalam Kabinet Merah Putih. Trenggono kini menghadapi tantangan untuk menerjemahkan potensi laut Indonesia menjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya. Program pembangunan kampung nelayan dan penguatan ekonomi biru menjadi bagian dari agenda yang dijalankannya. Hasil dari berbagai kebijakan tersebut akan bergantung pada pelaksanaan, pengawasan, serta kemampuan pemerintah melibatkan masyarakat dan pelaku usaha secara berkelanjutan.