Jakarta, 14 September 2026 – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyoroti penggunaan berbagai pilihan rasa pada rokok elektronik yang dinilai menjadi salah satu cara produk tersebut menarik perhatian generasi muda. Varian rasa buah, makanan manis, minuman, hingga sensasi tertentu dinilai dapat membuat produk rokok elektronik terlihat lebih menarik dibandingkan produk tembakau konvensional. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena rasa yang familiar berpotensi mengurangi persepsi mengenai risiko penggunaan produk yang mengandung nikotin. Generasi muda yang sebelumnya tidak tertarik terhadap rokok dapat terdorong mencoba karena melihat rokok elektronik sebagai produk yang berbeda dari rokok konvensional. BPOM menilai persoalan tersebut membutuhkan perhatian bersama dari pemerintah, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pengawasan juga diperlukan agar strategi pemasaran tidak semakin memperluas paparan produk nikotin kepada kelompok usia muda.
Pilihan rasa menjadi salah satu karakteristik yang membuat rokok elektronik berkembang dengan cepat di berbagai kelompok konsumen. Produk dapat ditawarkan dalam beragam aroma dan sensasi yang menyerupai buah, permen, makanan penutup, maupun minuman populer. Tampilan tersebut dapat menciptakan kesan bahwa produk lebih ringan atau tidak memiliki risiko sebesar rokok konvensional. Padahal, keberadaan rasa tidak menghilangkan potensi paparan nikotin maupun berbagai zat lain dari aerosol yang dihasilkan perangkat. BPOM menilai pemahaman mengenai hal tersebut penting agar masyarakat tidak hanya menilai keamanan berdasarkan aroma atau rasa. Informasi mengenai kandungan dan risiko perlu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami terutama kepada kelompok usia muda.
Generasi muda menjadi perhatian karena masa remaja merupakan periode ketika rasa ingin tahu dan kecenderungan mencoba sesuatu yang baru relatif tinggi. Produk dengan desain menarik dan pilihan rasa yang beragam dapat memperbesar daya tarik dalam situasi tersebut. Pengaruh lingkungan pertemanan dan konten digital juga dapat membuat penggunaan rokok elektronik terlihat sebagai bagian dari gaya hidup. Ketika produk muncul berulang kali dalam ruang sosial yang dekat dengan remaja, persepsi mengenai risikonya dapat berubah. Penggunaan yang awalnya dilakukan karena rasa penasaran juga berpotensi berkembang menjadi kebiasaan apabila produk mengandung nikotin. Karena itu, pencegahan perlu dilakukan sebelum penggunaan menjadi lebih sulit dihentikan.
Nikotin menjadi salah satu aspek utama yang perlu dipahami masyarakat ketika membicarakan rokok elektronik. Zat tersebut dapat menimbulkan ketergantungan sehingga pengguna dapat memiliki dorongan untuk terus mengonsumsi produk yang mengandung nikotin. Pada kelompok usia muda, perhatian terhadap paparan nikotin menjadi semakin penting karena mereka masih berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan. Rasa yang menyenangkan dapat membuat pengguna kurang menyadari jumlah paparan yang diterima ketika menggunakan produk berulang kali. Kondisi tersebut berbeda dengan anggapan bahwa rokok elektronik hanya menghasilkan uap dengan rasa tertentu. Edukasi perlu menjelaskan bahwa aerosol rokok elektronik bukan sekadar uap air dan dapat membawa berbagai zat yang masuk ke tubuh.
BPOM juga menaruh perhatian terhadap pengawasan produk yang beredar agar kandungan dan informasi pada kemasan dapat diketahui secara jelas. Konsumen perlu mendapatkan informasi yang memadai mengenai apa yang terdapat dalam produk yang digunakan. Pengawasan menjadi semakin menantang ketika terdapat banyak jenis perangkat, cairan, merek, dan varian rasa yang terus berkembang. Produk yang beredar melalui kanal daring juga dapat menjangkau konsumen secara luas sehingga pengawasan tidak cukup hanya dilakukan pada penjualan secara langsung. Pemerintah perlu memastikan ketentuan mengenai pemasaran dan distribusi dijalankan secara konsisten. Perlindungan terhadap kelompok usia muda menjadi salah satu pertimbangan utama dalam memperkuat pengawasan tersebut.
Promosi melalui media digital turut menjadi bagian yang perlu mendapatkan perhatian karena generasi muda merupakan kelompok yang sangat aktif menggunakan platform daring. Konten yang menampilkan rokok elektronik dengan desain menarik, pilihan rasa, atau dikaitkan dengan gaya hidup tertentu dapat membentuk persepsi terhadap produk. Promosi tidak selalu muncul dalam bentuk iklan langsung karena dapat disampaikan melalui konten hiburan, ulasan, maupun unggahan pengguna. Kondisi tersebut membuat batas antara informasi dan pemasaran terkadang sulit dikenali oleh konsumen muda. Pengawasan terhadap promosi karena itu perlu menyesuaikan perkembangan pola pemasaran digital. Literasi media juga dibutuhkan agar generasi muda mampu mengenali pesan komersial yang berusaha memengaruhi keputusan mereka.
Keluarga memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman mengenai risiko penggunaan rokok elektronik sejak dini. Komunikasi tidak cukup hanya berupa larangan karena remaja juga membutuhkan penjelasan mengenai alasan dan konsekuensi dari penggunaan produk tersebut. Orang tua dapat membicarakan kandungan nikotin, risiko ketergantungan, serta cara pemasaran memanfaatkan rasa dan tampilan untuk meningkatkan daya tarik. Pembicaraan yang dilakukan secara terbuka dapat membantu anak membuat keputusan berdasarkan informasi yang lebih lengkap. Lingkungan keluarga juga dapat menjadi tempat pertama untuk mengenali perubahan perilaku yang berkaitan dengan penggunaan produk nikotin. Pencegahan akan lebih efektif apabila dilakukan sebelum kebiasaan terbentuk.
Sekolah dan lingkungan pendidikan juga dapat mengambil bagian dalam memperkuat edukasi mengenai rokok elektronik. Informasi kesehatan perlu mengikuti perkembangan produk karena bentuk konsumsi nikotin terus berubah dan tidak lagi hanya berupa rokok konvensional. Peserta didik perlu memahami bahwa bentuk perangkat yang modern atau aroma yang menyenangkan tidak dapat digunakan sebagai ukuran keamanan. Program edukasi dapat mengajarkan cara membaca informasi produk sekaligus memahami risiko ketergantungan. Guru dan tenaga pendidikan juga membutuhkan pengetahuan yang cukup agar dapat memberikan penjelasan yang tepat ketika menghadapi pertanyaan siswa. Pendekatan tersebut dapat membantu membangun lingkungan yang lebih mendukung pencegahan penggunaan nikotin pada usia muda.
Upaya perlindungan generasi muda juga membutuhkan koordinasi lintas sektor karena persoalan rokok elektronik tidak hanya berkaitan dengan pengawasan produk. Aspek kesehatan, perdagangan, pemasaran, pendidikan, perlindungan konsumen, dan pengawasan ruang digital saling berhubungan. Kebijakan yang diterapkan pada satu sektor dapat kehilangan efektivitas apabila akses melalui kanal lainnya tetap terbuka. Pemerintah karena itu perlu memastikan aturan mengenai penjualan dan promosi memiliki mekanisme pengawasan yang dapat diterapkan. Pelaku usaha juga memiliki tanggung jawab untuk mematuhi ketentuan dan tidak mengarahkan pemasaran kepada kelompok yang tidak memenuhi persyaratan usia. Masyarakat dapat membantu dengan melaporkan dugaan pelanggaran yang ditemukan dalam peredaran maupun promosi produk.
Sorotan BPOM terhadap penggunaan rasa pada rokok elektronik pada akhirnya menegaskan perlunya meningkatkan perlindungan terhadap generasi muda dari paparan produk nikotin. Variasi rasa dapat menjadi pintu masuk karena membuat produk terlihat lebih menarik dan berpotensi menurunkan persepsi terhadap risiko. Pengawasan peredaran, pemasaran, informasi produk, dan akses kelompok usia muda perlu berjalan bersamaan dengan edukasi yang konsisten. Keluarga dan sekolah memiliki peran penting untuk menjelaskan bahwa rasa maupun desain modern tidak membuat suatu produk otomatis bebas risiko. Pemerintah juga perlu terus mengikuti perubahan teknologi dan strategi pemasaran agar kebijakan tidak tertinggal dari perkembangan pasar. Dengan pengawasan dan edukasi yang lebih kuat, risiko semakin banyak generasi muda memulai penggunaan produk nikotin diharapkan dapat ditekan.